PROFIL KOH DONDY TAN

Dondy Tan (yang memiliki nama lengkap Dondy Tan Susanto atau Dondi Eko Putro Susanto, dan akrab disapa Koh Dondy) adalah seorang aktivis dakwah, Youtuber, dan pakar perbandingan agama (khususnya Kristologi) di Indonesia.
Koh Dondy Tan merupakan sosok pria keturunan Tionghoa kelahiran Semarang – Jawa Tengah yang dikenal di media sosial karena pendekatan dakwah yang berbasis riset ilmiah, diskusi teologis, dan debat antaragama yang dinilai logis serta minim emosi.

Berikut adalah uraian deskripsi lengkap mengenai profil, perjalanan hidup, dan kiprah dakwah Koh Dondy Tan:
1. Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan
-
Keluarga Taat: Koh Dondy lahir dan dibesarkan dalam keluarga besar penganut agama Kristen Protestan yang taat di Jawa Tengah (Semarang dan Cilacap). Sejak kecil telah beraktivitas di gereja yang sudah dianggapnya seperti rumah kedua.
-
Titik Balik Keluarga: Pada tahun 2007, ayahnya yang merupakan salah satu pembicara di gereja secara mengejutkan memutuskan untuk memeluk agama Islam. Peristiwa ini memicu rasa penasaran yang besar dalam diri Koh Dondy untuk mulai memperhatikan dan mempelajari Islam secara objektif.
2. Perjalanan Spiritual dan Riset 7 Tahun
Koh Dondy dikenal sebagai tipe mualaf intelektual. Perpindahan agamanya tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang:
-
Riset Lintas Kitab: Ia melakukan riset mendalam selama kurang lebih 7 tahun. Ia membandingkan teks-teks dalam Alkitab (Bible), mengkaji teologi Yahudi, hingga akhirnya membedah Al-Qur’an.
-
Menemukan Logika dalam Islam: Selama masa pencarian tersebut, ia menggunakan pendekatan kritis dan ilmiah. Ia merasa bahwa Islam memiliki struktur teologi yang sangat kokoh, konsisten, logis, dan selaras dengan nalar serta sains modern.
-
Bersyahadat (2014): Tepat pada tanggal 25 Juli 2014, ia resmi mengucapkan dua kalimat syahadat di bawah bimbingan ulama (salah satunya berguru kepada Habib Haidar Alwi).
-
Konsekuensi Personal: Keputusan ini membawa ujian berat dalam kehidupan pribadinya. Sang istri saat itu memilih untuk tetap pada keyakinannya, sehingga mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah secara baik-baik.
3. Kiprah Dakwah dan Metode “Islamic Apologetics”
Setelah memeluk Islam, Koh Dondy mendedikasikan hidupnya di dunia dakwah, khususnya pada bidangIslamic Apologetics (pembelaan iman Islam secara ilmiah):
-
Fokus Media Sosial: Melalui kanal YouTube pribadinya (yang memiliki jutaansubscribers), ia rutin mengunggah video diskusi, kajian perbandingan agama, hingga debat teologis dengan para pendeta atau teolog non-Muslim. Kontennya sempat beberapa kali viral, termasuk diskusinya yang menanggapi figur publik atau konten kreator keagamaan lain.
-
Gaya Diskusi yang Santun: Berbeda dengan debat kusir yang emosional, Koh Dondy selalu menekankan aturan bahwa diskusi harus berbasis data teks kitab suci dan fakta sejarah, tanpa boleh menghina atau merendahkan keyakinan agama orang lain.
-
Membentengi Akidah: Koh Dondy sering menyatakan bahwa tujuannya melakukan edukasi perbandingan agama bukan sekadar mengajak orang masuk Islam, melainkan memberikan literasi dan pengetahuan kepada umat Muslim agar imannya kuat dan tidak mudah goyah atau dikelabui.
4. Aktivitas Keorganisasian dan Sosial
Tidak hanya aktif di dunia maya, Koh Dondy juga turun langsung ke lapangan melalui berbagai lembaga sosial-keagamaan:
-
Garda Mualaf Indonesia & YPMA: Ia aktif mengurus organisasi pembinaan mualaf, seperti Yayasan Pembina Muallaf At-Tauhid (YPMA) dan Garda Mualaf Indonesia. Lembaga-lembaga ini memfasilitasi para mualaf baru dengan memberikan kelas dasar ibadah secara gratis, bimbingan guru privat, komunitas dukungan, hingga bantuan logistik.
-
Dakwah Pedalaman: Bersama timnya dan berkolaborasi dengan Dewan Dakwah, Koh Dondy kerap melakukan safari dakwah ke wilayah-wilayah pelosok, daerah rentan, hingga masyarakat adat minoritas (misalnya suku Tau Taa Wana di Morowali Utara) untuk mengenalkan Islam.
Prinsip Utama: Koh Dondy sering menegaskan bahwa dirinya enggan terus-menerus disebut sebagai “mualaf” dalam artian orang yang baru diberi belas kasihan. Beliau lebih suka menyebut dirinya sebagai“orang yang kembali kepada fitrah Islam” dan berkomitmen untuk terus belajar serta berdakwah di jalan pemikiran keislaman seumur hidupnya.
